Minggu, 10 Agustus 2014

KUMPULAN - KUMPULAN PUISI


sofiyan 

Tentang Sebuah Kisah

Aku belum mengerti.
Rintik-rintik hujan menemaniku.
Kabut asap menyelimuti indahnya bumi Lancang Kuning.
Menandakan musim telah berubah.

Jauh langkah kakiku.
Terhenti disemenanjung kisah.
Hanya sebuah langkah kecil.
Yang menuntunku menemukan semua ini.

Ini tentang aku dan kamu.
Semua tentang kisah kita.
Dalam kejamnya dunia.
Dalam dua dunia.
Yang ingin memisahkan kita.
Aku belum mengerti.
Kisahku, kisahmu, dan kisah kita.
Kisah yang menyatukan kita.

Probolinggo, 07-08-2014

(...................) Namamu

(..................).
Aku tidak sadar akan semua ini.
Sebuah nama yang telah terukir direlung hatiku.
Nama yang telah meluluhkan hati ini.
Sebuah nama yang menginspirasi hari-hariku.
Nama yang membuatku tetap berada disini.
Namun sebuah nama yang baru ku kenal.

Hanya sebuah nama.?
Ya...
Ini tentang sebuah nama.

tidakkah Kamu tahu.
ama yang terukir indah penuh makna itu.
Ialah namamu.
Bergetar bibirku.
Air merah didalam tubuh ini terasa tidak mau mengalir.
Datek jatung tidak mau ketinggalan menyiksaku.
Berbunga-bunga hati ini.
Ketika namamu tersenymu manis kepadaku.

Aisyah...
Itukah namamu.
Tidak perlu kamu katakan iya.
karena namamu sudah terukir indah pada tempatnya.

Probolinggo, 09-08-2014

Janji terakhirku

Bunga tulip, mekar nan indah ditanah Ratu Wilhelmina.
Warna-warni gemerlap menghiasi taman-taman kota.
Semerbak harumnya.
Tak akan pernah aku lupa. Itu janji dulu.

Namun..
Bagai tebing dibibir pantai.
Bagai alkohol yang tak bertutup.
Bagai baja yang terus bergesekan.

Negri kencir angin jauh bertiup.
Keindhan Negri Tulip.
Kemolekan the Orange.
Semua terhapus dalam ingatan ku.
Hanya demi tempat buat kamu.

Aku memohon.
Tata Hatiku dengan cintamu.
Jagalah dia dengan kasih sayangmu.
Rawatlah dia dengan kesabaranmu.

Karena aku berjanji.
Kamulah yang terakhir untukku.
Ini janjiku.
Janji terakhirku yang kuucapkan.

Probolinggo, 07-08-2014

Pelita Hati

Alam mimpi.
Dia datang menghampiriku.

Aku bukan barang sembarang.
Aku bukan koleksimu.
Aku bukan mainan politikmu.

Jangan coba – coba sentuh aku.
Sebelum kamu sadar.
Sebelum kamu layak.
Dan ketika kamu sadar.
Aku pelita dalam gelapmu.
disitulah aku bisa menuntunmu.

Tersadar dari alam mimpi.
Dia ialah Kalam Illahi.
Al_qur’anul Karim.

Probolinggo, 08-08-2014

Inilah Karyaku

Sebuah gubahan kata tanpa makna.
Selimut embun penyejuk angan.
gelisa jiwa penghancur raga.

Hanya inilah karyaku.
Barisan kata.
Bagai tentara berbaris di panasnya mentari singgasana politk.

Hanya inilah karyaku.
Aku bukan WS Rendra.
Burung merak, Sang pendiri bengkel teater.
Aku bukan Chairil Anwar.
sibinatang jalang, penyair terkemuka NEGRI.
Aku bukan Taufiq Ismail.
Sipemilik gelar bangsawan Datuk Panji Alam Khalifatullah.
Aku juga bukan Wiji Thukul.
Puisi-puisi yang mebawa bencana.

Aku hanya bekarya seadanya.
Hanya ingin kamu disisiku karena karya ini.
karya penghantar tidur kata mereka.
inilah karyaku.
yang lahir karenamu.

Probolinggo, 09-08-2014

Mengejar ASA

Daun - daun kering ditengah padang gersang.
Butir - butir embun pagi penusuk sukma.
Tumpukan kertas yang mencari lautan tinta.
Biarkan semua pada tempatnya.
Mencoba tinggalkan kesan mendalam.

Ini nyata.
Bukan dalam dunia mimpi yang penuh kejutan.
Aku hanya mahasiswa abadi.
Yang tidak memiliki apa-apa.
Ilmu aku payah.
Hanya dua lembar kertas hartaku saat ini.

Aku berdiri disini.
Disudut ruangan ini.
Berdiri sendiri laksana patung penjaga.
Merenung arti hidup.
Ilmu aku payah.
Hanya dua lembar kertas hartaku kini.

Ya...
Aku hanya seorang mahasiswa.
Hanya memiliki keyakian.
Tanpa tahu manjadi apa kelak..
Aku mahasiswa abadi yang mencari sebuah cinta dan kebenaran.
Ya....
Aku juga manusia.
Mengharap sukses pada akhirnya.

Probolinggo, 10-08-2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar