Selasa, 12 Agustus 2014

PUISI (Supermoon dan Gelisah)

Supermoon, Indah Ciptaan Mu.

Aku sendiri.
Kamu sendiri.
Terpisah oleh jarak yang tak begitu jauh.
Ada dinding kokoh yang mengahalagi kita.
Namun aku berpikir sendiri juga indah, terkadang.
Ya...
Seperti supermoon dimalam itu.                                                       

Supermoon...
Indahnya  dirimu sanggup mempesona isi alam semesta.
Sinar sejukmu menyapa ku dimalam itu.
Diiringi lantunan ayat – ayat suci Al-Qur,an.
you look beautiful charm,
seperti itu mereka berkata tentangmu.

Supermoon...
Tidak denganku.
Aku seperti tidak melihat indahnya pesonamu dimalam itu, dan sampai kapanpun.
Supermoon...
Pesonamu seakan hilang ketika aku menatap senyumnya.
Walau aku hanya melihat senyumnya dibalik layar kaca.
Supermoon...
Ketika aku melihat senyumnya.
Nanti dan sampai kapanpun.
Aku tetap disini, sendiri menunggunya.

Allahumma, ciptaan Mu memang indah.
Selalu indah dan pasti indah.
Maha Besar Mu.
Yang mempertemukan aku, dengannya.

Probolinggo, 12 – 08 – 2014


Gelisah

Aku tak mampu.
Jika harus seperti ini.

Genangan pasir dilautan darah.
Sendi – sendi pergerakan hilang ditelan fatamorgana.
Badai salju menusuk rusuk – rusuk jiwaku.
Aku tak mampu.
Jika tetap seperti ini.
Aku hanya selemabar kertas yang belayar dilautan tinta.
Menuju ioni – ioni padang gersang.
Aku hanya seutas tali yang melayang – layang dalam anganmu.

Aku tak mampu menyetuhmu, karena aku hanya pemujamu.
Aku tak berjalan di sisimu, kerena aku, ya aku.
Aku hanya bisa berjalan sendiri.
Mengarungi gelapnya malam.
Yang membutakan mata duniaku.

Aku tetap tidak mampu.
Tersenyum, menyapa, apa lagi bejalan disisimu.
Hanya karena aku diciptakan sebagai pengagummu.
Aku tetap tidak mampu.

Probolinggo, 12 – 08 - 2014




Tidak ada komentar:

Posting Komentar